

One Step At a Time
..an ordinary life diary..
| Ini Resolusiku, Apa Resolusimu? :) | 12:49 AM |
|
comments (0)
Filed under:
Dear Diary
|
|
Hi guuyyss!
Gw targetin tahun ini gw musti olahraga minimal 3x dalam seminggu, minimal 15 menit :)
Makanya sekalii lagii: Gw ga pengen pasangan hidup, mami papi, atau anak-anak gw jadi terbeban karena dari masa muda gw ga menjaga pola makan gw dengan bener :(
3. Baca Alkitab selama setahun!Komitmen yang ketiga ini gw lakukan karena di tahun 2011 kemarin gw bener-bener merasakan betapa kalau gw jalanin hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, hidup gw itu teratur, makin bertumbuh, dan meminimalisir mengambil keputusan-keputusan yang salah.
Walapun emang sulit dan bayar harga, tetapi tunduk kepada kehendak Tuhan daripada nafsu pribadi itu membuahkan hasil yang sangat indah :))
Trus tahun kemarin mungkin bisa dibilang masa-masa produktif gw baca buku Kristen, hahaha...
Di dalam buku-buku itu kadang-kadang suka ada semacam Pendalaman Alkitab, yang membuat gw dapat melihat suatu ayat dan berpikir dengan pola pikir yang totally different!
Jadiii gw rindu buat mendalami alkitab secara pribadi yang merasakan apa yang Tuhan itu tuliskan berdampak buat kehidupan gw sehari-hari...
Sooo... Selain Saat Teduh setiap hari, gw menambahkan (kurang lebih) 15 menit lagi buat baca Firman Tuhan setiap harinya :)
Komitmen ini gw buat karena makin banyak kotbah tiap Minggu yang baik dan berguna, baik buat diri gw sendiri, maupun buat menasihati dan sharing sama temen-temen gw, sehingga gw merasa BUTUH banget mencatat kotbah tiap Minggu, jadi ga gampang lupa, en kalau butuh bisa baca-baca lagi dan diingatkan terus menerus kalau perlu :)
Ituuu diaaaa resolusi utama yang gw buat pas menapaki tahun 2012 yang baru iniii :)
Ada siii beberapa resolusi tambahan dari mami dan temen-temen gw, seperti: musti bikin aransemen atau lagu baru tiap liburan, atau musti sarapan tiap pagi, atau dilarang menggigit kuku lagi, hahahaha...
Tapi ini 4 yang gw buat secara pribadi dan gw mengusahakannya dengan sungguh-sungguh, hwhwhw...
Semoga resolusi ini terus gw jalani dengan motivasi yang benar dan semangat yang tak akan padam.
Ini resolusiku, apa resolusimu? ;)
| Bagaikan Bejana Siap Dibentuk :) | 12:26 PM |
|
Filed under:
Friends,
Reflection
|
|
Gw pengen ama pacar gw nanti sama2 melayani Tuhan dan bner2 punya hati yg melayani, bukan karena pengen terus-terusan bareng doi….
| No Time to Hang-Out, MUST......Practice!!! | 11:06 PM |
|
Filed under:
Dear Diary,
Reflection
|
|
Hallooo lagii!
Kali ini gw mo ngebagiin renungan yang gw dapet hari ini yang paassss banget dengan pengalaman gw akhir-akhir ini, hwhwhw...
Hope it will be a bless! :)
Jumat, 30 Desember 2011
Judul: Kasih Penguin Kaisar
Baca: 1 Yohanes 3:11-18
Sementara itu, si betina kembali ke laut untuk mencari makan. Ia akan kembali ke sarang menjelang anaknya menetas. Apabila ia terlambat, si jantan dapat memberi makan anaknya dengan cadangan yang diambil dari saluran pencernaannya sampai selama sepuluh hari. Itu akan membuatnya kehilangan setengah bobot tubuhnya. Begitu si betina muncul, giliran si jantan pergi ke laut. Selanjutnya mereka bergantian mencari makan untuk membesarkan si kecil.
Kehidupan unggas kutub tersebut menggambarkan bahwa kasih itu bukan konsep atau kata-kata manis belaka. Kasih adalah kata kerja. Kasih sejati diungkapkan melalui tindakan yang mengutamakan kesejahteraan orang lain, bahkan apabila perlu dengan mengorbankan kepentingan pribadi. Sebagaimana Kristus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita, kita pun diperintahkan untuk menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.
Gw akhir-akhir ini mengalami masa-masa pergantian orientasi (prioritas).
Gw kuliah di jurusan musik dimana melihat anak-anak latihan selama 5-10 jam sehari itu biasa banget.
Well, tadinya gw masuk di semester satu, dengan tampang polos dan sikap yang lugu, gw yaaa latihan sekadarnya aja: satu jam itu normalnya, dua jam kalo sanggup, hahaha...
Tapi sekaraanngggg, semakin bertambah sulitnya lagu-lagu yang gw mainin, serta gw pindah ke dosen yang lebih strict (baik dalam teknik, perform, serta NILAI! haha), sehingga otomatiisss gw punya sifat polos en lugu (en sedikit males) di awal-awal semester itu perlu dirubah, supaya nilai gw ga jeblok, performa gw tetep mantep, en ga di- blacklist sama dosen gue :p
Naahh... Sekarannngg (yang bahkan lagi liburan pun! liburan!), gw latihan minimal 4 jam sehari,
kalo bisa 6-7 jam yaa dijabanin juga...
Trus suatu hari ada temen SMA gw yang ngirim sms...
Biasalaahh.. Kek nanya "apa kabar" bla-bla-bla gitu... Ga terlalu deket siii sama dia, deketnya pas SMP, dan itu juga yaa gitu-gitu ajaa, ga sampe pergi bareng ato makan bareng gitu, palingan cmn temen cengengesan doang, hahaha... Gw siii awalnya seneng denger kabarnya...
Tapi lama-lama koq ngobrolnya terus-terusan, dan otomatis menggangu jadwal latihan gw...
(Yeah, gw punya jadwal latihan... Freak abis emang, wkwkwkwk) :p
Jadiii yaa HPnya gw silent, sehingga balesnya mulai lama en jarang-jarang, sampe akhirnya malam tiba, dan gw ngantuk, jadi gw sudahi saja percakapannya.
Dan dia mengucapkan satu kalimat yang membuat gw tersentak...
"Makasii yaa udah nemenin gw ngobrol..."
"Nemenin gw ngobrol..."
Oh gosh, kata-kata itu terngiang-ngiang terus di kepala gw.
Gw menyadari bahwa betapa keberadaan dan balesan sms gw itu berarti banget buat dia.
Yaaa buat gw mungkin biasa aja (en mungkin sedikit menggangu latihan gw) sii sms-an sama dia,
tapi buat dia ternyata hal yang gw lakuin itu sangat berharga.
Balesan sms gw membuat dia merasa dikasihi.
Pengorbanan waktu latihan gw membuat dia merasa ada orang yang perhatian sama dia...
Gw dari sini belajar...
Menjadi sukses, mencapai IP yang baik, dikenal dosen, menjadi performer yang baik, mencapai prestasi-prestasi, itu semuanya baik, tapi bukan yang terpenting...
Apa yang terpenting?
Ini yang terpenting:
Actions speak louder than words (Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata). Kasih tidak cukup hanya dinyatakan dengan perkataan, tetapi mesti diwujudkan dalam perbuatan.
Sejauh mana tindakan kita mengungkapkan kasih kita bagi saudara-saudara kita?
Apakah kita secara bermurah hati menyerahkan nyawa kita—waktu, tenaga, talenta, uang—bagi saudara-saudara yang memerlukan perhatian kita?
A simple "hello" di pesan BBM pagi hari buat seorang kawan yang sedang berduka pasti akan mencerahkan harinya.
A simple smile buat pak satpam, pak cleaning service, tukang parkir, atau homeless person di jalanan bakal membuat mereka memiliki semangat hidup lagi.
A simple helping hand buat seorang teman yang sedang berbeban berat bakal membuahkan impact yang sangat besar buat jiwanya...
Sudahkan kalian melakukan ungkapan kasih untuk seseorang hari ini? :)
| Pria yang Pantas (gw) Nantikan :) | 10:49 PM |
|
Filed under:
Reflection
|
|
Gw dulu tuh ga punya patokan yang jelas kalau nyari (atau milih-milih) cowok yang kira-kira bisa jadi boyfriend material...
Dulu bangeettt pas SMP, standar gw cuman satu: SEIMAN. Kristen Protestan. Titik. :p
Trus pas SMA hingga kuliah, standar gw lumayan, naik ke-spesifik-annya:
Pria yang punya kepercayaan iman yang sama dan hubungan baik dengan Tuhan.
Ga cukup punya cowok ber-KTP Kristen Protestan tapi kelakuannya kek preman,
jadi tambahin dheee embel-embel "punya hubungan baik dengan Tuhan."
Hahaha...
Tapi setelah baca "This Momentary Marriage" tentang peran seorang suami Kristen (baca di sini),
dan melihat betapa banyak wanita bijak yang menulis secara spesifik karakter seorang pria yang pantas dinantikan dalam buku "Lady in Waiting", gw merasa PERLU untuk membuat suatu daftar baru untuk mendeskripsikan seorang "Pria yang Pantas Gw Nantikan" :)
Kenapa perlu daftar siii?
Banyak juga orang yang ga nulis daftar (seperti Elisabeth Elliot, Leslie Ludy, dll) tapi akhirnya mendapatkan ending bahagia dari sebuah kisah cinta yang ditulis oleh Allah...
Kenapa lw perlu buat daftar?
Wellll, karena berdasarkan pengalaman gw dari SMP ke jaman kuliah sekarang,
gw tuh orangnya klo udah jatuh cintaaaaa, bakal lupa namanya akal sehat...
Bakal berfantasi yang baik-baik terus,
berimajinasi yang indah-indah terus,
eennnn...otomatis ngeliat karakter-karakter baik dari cowok yang gw taksir doang,
dan menganggap karakter-karakter yang kurang baik itu sebagai sesuatu hal yang "kebetulan aja muncul".
Dan gw menyadari sekarang, kalau hal itu kurang bijak untuk dilakukan.
Well yeah selagi lw lagi kasmaran, semuanya mah indaahhh,
tapi setelah lama-kelamaann baru kelihatan dhe.
Memang gw membutuhkan suatu daftar spesifik untuk bisa memisahkan mana cowok yang pantas, dan tidak pantas untuk mendapatkan seorang Mandy :)
Gw berdoa sebelum membuat daftar ini,
dan menelusuri kerinduan hati gw secara mendalam untuk mengetahui cowok seperti apa yang gw rindu untuk menantikannya. Tapi PASTINYA harus sejalan sama Firman Tuhan, supaya ga cuman sekedar "selera duniawi" doang. Berbekal dengan beberapa ayat alkitab dan pendalaman alkitab yang gw hafal, gw menyelesaikan list ini :)
| Peran seorang Suami Kristen :) | 10:45 AM |
|
Filed under:
Reflection,
Reviews
|
|
Hi guys! Di post sebelumnya gw bilang kalo gw lagi baca buku "This Momentary Marriage" by John Piper. It was soooo good that I want to share it with you guys :)
Di bab2 awal, John Piper menjelaskan betapa pernikahan Kristen itu merupakan kehendak dan rencana Allah dari mulanya (Kejadian 2:24),
dan pernikahan itu merupakan gambaran hubungan Kristus dan jemaat-Nya.
Seperti yang Paulus katakan dalam Efesus 5:31-32,
"Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya,
sehingga keduanya itu menjadi satu daging.
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."
Kristus mengikatkan janji dengan jemaatnya dengan darah dan pengorbanan-Nya, dan membentuk suatu "pernikahan" yang tak akan terpisahkan.
Oleh karena itu, tujuan utama dan paling mulia dari sebuah pernikahan adalah:
untuk memperlihatkan/mempertontonkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.
Jika kalian sudah menikah, inilah tujuan yang harus kalian capai.
Jika kalian hendak menikah, inilah yang seharusnya menjadi impian kalian :)
Efesus 5:22-25 adalah analisis bagaimana peran seorang suami dan seorang istri di dalam pernikahan yang mengambil contoh dari Kristus dan jemaat-Nya.
Suami dibandingkan dengan Kristus;
Isteri dibandingkan dengan jemaat.
Suami dibandingkan sebagai kepala;
Isteri dibandingkan sebagai tubuh.
Suami diperintahkan untuk mengasihi sama seperti Kristus yang telah mengasihi;
Isteri diperintahkan untuk tunduk sama seperti jemaat yang tunduk kepada Kristus.
Dalam post ini gw mw tekankan dalam peranan suami dalam sebuah rumah tangga.
Headship adalah panggilan mulia para suami menjadi pemimpin yang mau melayani, serta mengambil tanggung jawab melindungi, menyediakan kebutuhan, dan menjadikan rumah tangganya segambar dan serupa dengan Allah.
1. Pemimpin sebagai Pelindung
Dalam Efesus 5:27, Paulus mau agar para suami meneladani bagaimana Kristus -yang bertindak sebagai Pemimpin yang Melayani- mengasihi jemaat-Nya:
"kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya"
Tekankan kata: "Telah menyerahkan diri-Nya baginya..."
Saat Kristus menyerahkan diri-Nya bagi kita,
Ia "memikul dosa kita" (1 Petrus 2:24),
"menjadi kutuk" untuk kita (Galatia 3:13),
dan "mati bagi kita" (Roma 5:8);
dan karena ini kita diperdamaikan dengan Allah dan diselamatkan -dilindungi dari!- murka-Nya.
Seperti dalam Roma 5:10 mengatakan:
"Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!"
Kalau ada contoh bagaimana seorang pemimpin mengambil inisiatif untuk melindungi dan menyelamatkan pengantinnya, inilah contoh itu.
Jadi ketika Paulus menyuruh seorang suami yang Kristen untuk menjadi pemimpin bagi istrinya seperti cara Kristus memimpin, yang dia maksudkan adalah: LINDUNGI DIA BAGAIMANAPUN CARANYA!
2. Pemimpin sebagai seorang Penyedia Kebutuhan
Dalam ayat 28-29 tertulis:
"Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak ada orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat."
Kata mengasuh (ektrephei) sering digunakan dalam Alkitab dalam konteks membesarkan anak-anak dan mencukupi kebutuhan mereka.
Jadi, seorang suami yang meneladani Kristus mengambil inisiatif untuk mencukupi kebutuhan isteri dan anak-anaknya.
Seorang suami dipanggil untuk melakukan kepemimpinannya dalam aspek-aspek:
1. Mencukupi kebutuhan jasmani
Ini berarti seorang suami harus menyediakan kebutuhan untuk tubuh jasmani (seperti makanan, pakaian, dan tempat tinggal).
2. Mencukupi kebutuhan spiritual
Ini berarti seorang suami harus mengejar Tuhan dalam segala sesuatu dalam hidupnya.
Seorang suami yang bisa memimpin secara spiritual hanyalah seorang suami yang iman, kasih dan pengetahuannya sudah bertumbuh dulu terhadap Allah.
*Peran ini dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan semua anggota keluarga untuk Renungan atau doa setiap hari. Ambil insiatif untuk mengumpulkan mereka!
Ingat juga bahwa menjadi pemimpin di sini memiliki tanggung jawab utama, bukan tunggal! Ini berarti kalian, para suami juga bisa berdiskusi dan meminta tolong isteri kalian untuk melakukannya :)
3. Melindungi secara jasmani
Peran yang ini sangat obvious sekali. Ini berarti, jika pada malam hari, ada suara di dalam rumah, kemungkinan ada perampok, sang suami harus menghadapi bahaya yang mengancam keluarganya terlebih dahulu!
4. Melindungi secara spiritual
Bahaya yang mengancam keluarga secara spiritual pada jaman ini banyak sekali.
Kita butuh seorang suami yang mampu berperang!
Bukan dengan pedang atau tombak, tapi dengan hikmat, kebijaksaan, dan keberanian yang Alkitabiah.
Para suami, berdoalah untuk keluarga kalian setiap hari,
"Jangan membawa mereka ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah mereka dari yang jahat."
Set standar untuk istri dan anak-anak kalian. Lakukan ini dengan istri kalian.
Set standar untuk hal-hal apa yang boleh ditonton, boleh dibaca, atau musik yang boleh didengar!!
Satu hal lagi contoh untuk pelindung secara spiritual:Rasul Paulus mengucapkan dalam Efesus 4:26-27,
"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam,
sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis."
Ini berarti, satu jendela besar bagi sang Iblis untuk masuk adalah amarah yang tidak padam dan masalah yang tidak terselesaikan dalam keluarga dan dengan anak-anak.
Kepemimpinan berarti sang suami harus mengambil inisiatif dalam perdamaian.
Bukan berarti sang isteri tidak usah meminta maaf.
Tetapi dalam hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya,
siapa yang mengambil inisiatif untuk membuat segala sesuatunya jadi baru?
Siapa yang turun dari takhta-Nya dan berbelas kasihan?
Siapa yang datang pertama kali kepada Petrus setelah ia menyangkal sebanyak tiga kali?
Siapa yang datang kepadamu terus terusan, mengampunimu, dan memberikan kesempatan untuk memulai hubungan yang baru?
YESUS KRISTUS! Sang pemimpin, sang pengambil inisiatif yang hebat!
Sooo, para suami, kepemimpinan kalian berarti: go ahead. Ga peduli siapa yang salah duluan.
Hal itu tidak menghentikan Sang Kristus.
Siapa yang menghancurkan perang dingin duluan?
Siapa yang duluan mengucapkan, "Maafkan aku, aku ingin membuatnya lebih baik..." atau:
"Bisakah kita berbicara?"
Sang istri mungkin mengambil inisiatifnya duluan. Dan terkadang itu tidak apa-apa.
Tetapi sangat disayangkan apabila kalian para suami mengira bahwa sejak itu adalah kesalahan sang istri, dia yang harus duluan meminta maaf.
Kepemimpinan tidaklah mudah.
Itu adalah pekerjaan paling sulit, paling rendah hati di dunia ini.
Lindungilah keluarga kalian. Berjuanglah, untuk menciptakan perdamaian sebelum matahari terbenam.
Pada waktu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah mendatangi mereka (tidak peduli bahwa Hawa yang berdosa duluan) dan berkata, (dalam alkitab Bahasa Inggris) "Adam, where are you?"
Itulah pesan Allah untuk keluarga masa kini:
Adam, Suami, Ayah, di manakah kalian?
Jika ada masalah dalam sebuah keluarga dan Yesus mengetuk pintu rumahnya,
Ia akan mencari sang PEMIMPIN, sang suami, sang kepala keluarga dalam keluarga itu.
Itu yang terjadi dalam pernikahan yang pertama.
Itu juga yang akan terjadi dalam pernikahan kalian!
Ketika seorang suami dengan penuh sukacita menerima tanggung jawab dari Tuhan untuk mau melayani, serta mengambil tanggung jawab melindungi, menyediakan kebutuhan untuk keluarganya -secara spiritual, untuk mendidik anaknya secara disiplin, bijaksana dalam menggunakan uang, memiliki pekerjaan yang tetap, dan mengusahakan perdamaian- tidak akan ada istri yang menyesal ia menikah dengan pria seperti ini.
Karena ketika Allah mendesain dan merancang sesuatu (seperti pernikahan!) Ia merancang itu untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan kita :)
Gw pas baca bab yang di atas tadi (tentang peran seorang suami),
gw langsung mikir: WAW! Standar untuk seorang suami Kristen yang taat itu TINGGI banget ternyata...
Terutama pas gw baca bahwa seorang suami harus mengambil inisiatif untuk mengusahakan perdamaian... Hal itu susaahhhh banget dilakukan!
Gw sendiri klo misalnya berantem sama mami papi, ato sama dedek aja jaraannggg banget mau minta maaf duluan, padahal gw yang salah! Apalagi kalo mereka yang salah! OGAHHHH!!
Hehehehehe :P *curcol*
Hal ini menyadarkan bahwa memilih seseorang untuk jadi pasangan hidup yang bisa membangun suatu keluarga Kristen yang taat kepada Kristus itu ga mudah!
Seorang suami ga bisa cuman dilihat berdasarkan wibawa-nya doang:
wiiii...bawa BMW!
wiii...bawa iPad!
ato kesempurnaan fisiknya:
Cowok TCP (Tinggi Cakep Putih),
Cowok GBK (Gagah Berotot Keren).
Seorang suami Kristen yang meneladani Kristus harus terlihat dari karakternya,
dari bagaimana dia mau mengambil inisiatif untuk memimpin,
inisiatif untuk melakukan keadilan,
inisiatif untuk menegur, dan
inisiatif untuk meminta maaf...
Bagaimana dengan kalian, wahai para calon istri?
Pengen punya suami yang Tinggi Cakep Putih dan kaya?
Atau pengen punya suami yang bisa melindungi serta mencukupi kebutuhan secara jasmani dan spiritual? ;)
Daann... Bagaimana dengan kalian, wahai para calon suami?
Pengen jadi suami yang kaya, sukses, dan terkenal?
Atau pengen jadi suami yang meneladani Kristus yang mengasihi, melindungi, dan mengambil inisiatif duluan untuk mengusahakan perdamaian bagi keluarga kalian? ;)
| Mengapa Perlu Bersukacita? | 10:58 PM |
|
Filed under:
Dear Diary,
Reflection
|
|
Hi guys! Akhirnya nulis lagiiii :D
Dari kemaren banyak banget posting-an di "delay" gara2 stengah2 bikinnya,
blom jadi, udah bikin yang lain, wekekek :p
Tunggu yaaa, I'll finish them soon! :)
Hari Sabtu, 3 Desember kemarin, gw sekeluarga besar dari papi pergi ke Panti Asuhan Prapatan buat merayakan ulang tahun sepupu gw, Shanon, yang ke-8. Ayahnya mau ngajarin dia supaya pas hari ultahnya ga boleh nuntut buat "dapet, dapet, dapet" hadiah terus, tapi musti belajar berbagi jugaa :)
Gw sii yaa, klo mo jujur, secara pribadi waktu itu males perginya... Gw sii sukaaa banget main sama anak-anak, apalagi anak-anak panti asuhan, yang demen banget dipeluk, tapi hari Senen setelah weekend itu gw UAS!! UAS cuyyy!! Dan gw pengen mempertahankan IP gw supaya ga turun, jadi musti belajaarrr!
Terdengar egois skaliii yaa? Tapi emang itu yang gw pikirkan, jadi gw agak sedikit ogah-ogahan sii bangunnya. Bersyukur, mami dan papi memaksa dengan sekuat tenaga agar gw mo bangun, sarapan, dan mandi, spy bisa pergi cepet-cepet ksana, hahaha :P
Sampai di sana, kita latihan lagu pujian penyembahannya, trus kakak David (perwakilan dari Panti Asuhan itu) yang jadi WL (Worship Leader) buat pas kebaktiannya minta gw ngiringin juga, jadi langsung nyocokin nada dasar 10 menit sblom kebaktiannya, wkwkwk..
Trus kakak David memimpin dengan antusias sekali. Ia dapat mengajak anak-anaknya dengan baik dan ia melakukannya juga dengan penuh sukacita, ditambah juga dengan talenta leadership yang sangat baik, sehingga dapat menguasai suasana saat kebaktian itu supaya tetap santai, tapi khusyuk...
Gw dari depan -sambil mengiringi puji-pujian- bisa melihat wajah-wajah anak-anak di Panti Asuhan itu yang penuh semangat memuji Tuhan, sangat merasakan dan meresapi tiap lagu yang dinyanyikan, seakan-akan mereka mengalami hadirat Tuhan saat mereka menyanyikannya...
Mereka penuh dengan sukacita melaksanakan kebaktian syukur itu, walaupun klo dilihat-lihat, mungkin mereka tidak memiliki kesempatan untuk bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga en ga bisa merayakan ulang tahunnya secara besar-besaran.
Pada saat menuju saat-saat sebelum bubar, ada beberapa anak-anak yang menunjukkan bakatnya dalam bernyanyi. Ada yang bernyanyi solo, ada yang bernyanyi kwartet juga...
Dan gw terkejut karena....ada beberapa di antara mereka yang suaranya sangat KEREN BANGET!
Mereka punya talenta di bidang itu, dan mereka ga malu-malu buat nyanyi untuk Tuhan :)
Di momen itu, gw belajar satu hal:
Mengapa sih kita perlu bersukacita?
Dalam buah-buah roh sendiri juga tertulis, salah satunya adalah: SUKACITA (Galatia 5:22-23)!
Mengapa hal itu begitu penting?
Simple.
Karena kadar sukacita kita menunjukkan hidup kita bergantung sama SIAPA (atau sama APA)...
Gw inget isi Renungan Harian tanggal 14 November kemarin...
Bacaannya terambil dari Lukas 7:11-17.
Ada seorang janda yang ditinggal oleh anaknya. Ia sudah membesarkannya sendirian, setelah suaminya meninggal, tetapi sekarang anaknya -harapan dan tempat ia menggantungkan hidupnya- meninggal.
Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, "Jangan menangis!" (ayat 13) dan membangkitkan kembali anak-Nya (ayat 14).
Yesus tidak hanya membangkitkan si anak muda, tetapi juga menghidupkan kembali harapan si janda...
Sumber: http://renunganharian.net/index.php/2011/11-november/76-menggantungkan-harapan
Anak-anak Panti Asuhan Prapatan tidak punya orang tua,
tidak punya Blackberry Torch,
tidak punya Samsung Galaxy Tab,
tidak punya iPad ataupun Macbook 13 inch,
tetapi mereka tetap BERSUKACITA...
Kenapa?
Karena mereka tidak menggantungkan hidup mereka dalam orang lain, Blackberry, Samsung Galaxy Tab, iPad, ataupun Macbook...
Mereka bersukacita karena memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan...
Bagaimana dengan kita?
Di mana kita menggantungkan harapan kita?
Kepada orang tua-kah? Kepada gadget-kah? Atau kepada Sang Pencipta? :)
Oleh karena itu, Sukacita menjadi tolak ukur seberapa kita berserah sama Tuhan.
Ketika anggota keluarga kita sudah tiada, gadget itu hilang, dan harta kita habis, apakah kita masih bisa bersukacita, karena kita menggantungkan harapan pada Dia, yang Maha Kuasa? Atau sukacita kita hilang bersama dengan benda-benda yang fana tersebut? ;)

© 2008 One Step At a Time
Design by Templates4all
Converted to Blogger Template by BloggerTricks.com



From 






